[13] dari Maba Jadi Mabok

okeh sodara sebaiknya saya mulai darimana perbincangan di malam ini (tercatat Minggu tanggal 30 Juni 2013 pukul 22:56, sejam sebelum mengakhiri bulan Juni yang cukup ribet ribut dan sebelum mengakhiri minggu ini yang menurut saya inspiratif). Saat ini sekarang saya berada di rumah tercinta dikarenakan cuti izin diklat karena ada prihal, yah biasalah. Mumpung di rumah sekalian juga saya melakukan dua hal yang mungkin salah satunya layak dilakukan anak kost : perbaikan gizi + perbaikan informasi dan pengetahuan (tidak tahu bagaimana dengan bro2 yg lainnya, tp saya akui selama di perantauan saya kurang mendapatkan asupan informasi yang bergizi dikarenakan tidak adanya tv dan berita2 di internet yang menurut saya cuman kacang goreng numpang lewat, kurang dapet isinya). Yah pokoknya selama pulang saya memakan yang bisa dibaca dan membaca yang bisa dimakan -____-

Pertama menurut pengumuman diklat tercintah dan kabar agen2 minyak saya yang tersebar di penjuru dunia kampus saya masuk divisi lapangan yang artinya : Semoga Liburan Anda Diberkati. Ya Alhamdullilah masuk ke divisi yang dipengenin walaupun rempong juga nanya2 udah harus ngapain aja sedangkan pikiran aja lagi leha-leha saya aja gak di Bandung.

Kedua, Alhamdullilah lagi saya dapet tiket gratis ikutan workshop dari acara super mega maha dahsyat botolnya, PEEECAAAHH ABITCH, yaitu POPCON 2013


waktu itu iseng buka2 baju twitter pas lagi siang bolong nunggu berita2 diklat tiba2 waktunya bertepatan dengan dibukanya quiz oleh admin popcon, langsung aja saya jwb gerilya (yah walau ternyata cmn boleh jawab satu kali). Dengan perngharapan rendah + saya bukan orang dengan keberuntungan yg tinggi (kalah mulu main poker di hape) saya mah murni iseng aja ikut. Eh gak taunya... (Rejeki dari Tuhan emg gak ada yang tahu)

Ketiga, karena saat ini saya haus akan bacaan dan pengetahuan (tsssaaaah), saya lagi kalap bacain buku satu2 (tumben, jujur biasanya saya cmn baca komik, abis selesai diulang lagi bacanya... dari belakang) dan salah satunya sm membaca buku yang menurut saya maha keren ini >>>

"Berani Mengubah", Pandji Pragiwaksono
Jadi kalau ditanya, ini buku ttg apa? apakah ttg cara berubah jadi pahlawan bertopeng? oh tentu iya tidak. Buku ini bisa dibilang menjadi jawaban atas kebingungan kita, para pemuda Indonesia yang kebanyakan main burung twitter dan socmed, ttg "begimane caranya gw bisa berbuat sesuatu untuk ini bangsa dan tanah air (#untukindonesia)?". Di dalam buku ini, yg nulis menjelaskan ttg banyak hal yang luput bgt dari kita sebagai warga negara yang kurang baik dalam memelihara negara ini. duh gimana jelasinnya ya??

Mungkin yang paling saya sadari setelah baca buku ini adalah, generasi pemuda, generasi saya, kurang mengenali negerinya sendiri. Ini kelihatan sekali dari kurang perhatiannya mereka (dalam konteks ini ya teman2 dekat saya) terhadap perkembangan informasi di negeri ini, sebut saja politik dan ekonomia sebutkan. mengapa dua hal itu? Saya menyadari bgt kebanyakan dari generasi sekarang kurang peduli dengan dua hal yang saya sebutkan di atas tadi. Asumsi saya, generasi skrg dibuat sibuk dengan akademik dan hal2 kurang penting lainnya seperti tren, demi membodohi kita dari realitas bangsa yg sebenarnya. Asumsi selanjutnya, karena udah dibikin sibuk dan capek sm hal2 di atas (sebenarnya bukan brarti menuntut ilmu kurang baik, namun konteks disini ialah disibukan sehingga melupakan salah satu aspek dari Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat) sehingga keinginan untuk rileks dan santainya lebih besar, makanya lebih suka bermain dan rekreasi. Ya karena udah capek bgt ngurusin akademik dll. Generasi srkg juga "kebanyakan" (bukan brarti semua) terlalu pesimis dengan negeri ini dikarenakan pemerintahannya dirasa sudah terlalu bobrok untuk diselamatkan, jadi ya udah pasrah aja gtu . Lantas ya apakah kita pasrah saja? *jengjengjengjeng

Kalau menurut fakta2 yang beredar di dunia, Indonesia mengalami kemajuan dan keberhasilan yang baik, terutama di bidang ekonomi (walaupun masih jauh dari kata baik, bukan jauh, jauh banget). Terlihat dari bertahannya kita pada saat krisis ekonomi 2008, dimana Indonesia bertahan karena jual beli dalam negerinya tinggi. Kita tidak terlalu bergantung dengan transaksi luar negeri, ekspor dan impor karena umumnya SDA sudah bisa dipenuhi sendiri. Lagian Indonesia juga udah punya banyak prestasi, mulai dari prestasi akademik hingga non-akademik. Olimpiade Fisika juaranya dari mana? Kontes Robot juaranya dari mana? Si samson bapaknya siapa? (eh bukan, bukan itu maksudnya). Tapi intinya teh sebenarnya dari yg dijelaskan buku ini, Indonesia saat ini berada dalam jalur yang benar, walaupun banyak pihak yg ngerasa pesimis dan merasa kita udah jatuh di jurang yg sangat dalam. Kalau diibaratkan (dikutip dari buku ini) Indonesia itu kyk kapal tanker yang panjang 1 km. Untuk berbelok aja, dibutuhkan putaran2 dan waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan kapal speedboat kecil (anggaplah kyk Singapura, maklum jauh lebih berkembang dari Indonesia dikarenakan negaranya kecil, jadi lebih gampang mengambil kebijakan). Indonesia sudah dalam arah yang benar, cmn butuh lebih banyak usaha aja dan... waktu, kesabaran.

Bangsa kita juga punya masalah kurang toleran sm masing2 orangnya, kurang memahami, kurang menghargai, sering cekcok kyk di tipi tipi. Dikit2 pake otot. Sering sekali di forum terjadi cekcok hanya karena masalah beda pendapat. Namanya juga orang toh, mikirnya beda, kalau pendapat beda ya wajar. Tapi ya mbok gak usah ribut. Dalam sebuah mata kuliah, dosen saya pernah menerangkan ttg ciri orang kreatif, orang hebat yang tahan banting. Salah satunya fleksibel, mau menerima pendapat orang lain, mau memahaminya, lalu menggabungkan segala kebaikan dari berbagai pendapat termasuk pendapat yang oposisi sekalipun untuk dijadikan solusi brilian yang baik untuk semua pihak. Jalan baru terbaik yang bisa diterima semua kalangan. Kenyataannya, kita terlalu sering memperdebatkan mana yang benar, dibandingkan mencari solusi dan jalan keluar yang paling baik. Kita dibutakan untuk mencari kebenaran dibandingkan mencari kebaikan. Makanya kasus yang sering nongol di tv sering berlarut2 tidak pernah selesai.

Karena merasa paling benar jugalah, kita kurang bisa bekerja sama. Contoh, sering sekali masing2 dari kita merasa bahwa bidang kita lah yang terbaik dan bisa menjadi jawaban kebenaran atas smua problematika yg ada. Anak tehnik contohnya merasa bahwa ilmunya lah yang paling berguna dan merasa tidak membutuhkan aspek ilmu yang lain sperti medis dan seni. Begitu juga sebaliknya, anak seni merasa ilmu nya paling berguna dan tidak membuthkan aspek ilmu anak tehnik. Mungkin banyak dari kita merasa "ah gak seperti itu kok" tapi kenyataannya perilaku kita mencerminkan ketidakacuhan seperti itu. Kita cuman mengganggap itu ada lalu tutup mata, tidak mau bekerja sama. Padahal karya yang hebat adalah kolaborasi dari berbagai bidang ilmu yang ada. Memahami, menghargai, dan kerja sama, karena percayalah tidak ada yang sanggup berdiri sendiri tanpa topangan ilmu yang lain. Karya2 hebat selalu berasal dari kolaborasi. Contoh Borobudur lahir dari kerja sama antara arsitektur, seni, sipil, agama, dan yang lainnya. Kolaborasi juga tidak hanya terjadi di ilmu namun juga praktisinya.

Begini ceritanya, pernah saya berargumen dengan seorang teman, ia merasa bahwa menuntut ilmu untuk skrg ini jauh lebih penting daripada pengabdian ke masyarakat, karena untuk apa kita terjun ke masyarakat tapi tidak punya sesuatu yg bisa dibagi (ilmu pengetahuan). Sedangkan saya berpendapat bahwa terjun ke masyarakat penting juga karena dengan begitu kita mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat dan ilmu kita juga jadi lebih bermanfaat dibandingkan dengan menuntut ilmu saja. Berdebat sampai serak, ternyata memang tidak semua orang memiliki pandangan yg sama. Disinilah letak menghargai dan kolaborasi. Dengan menghargai dan memahami, kita jadi mengerti titk kuat dan lemah pandangan masing2. Lalu kerjasama saja, dia yang menuntut ilmu, yang bereksperimen dan menggali pengetahuan, saya yang mengaplikasikan pada masyarakat luas, yang menyebarkannya. Jawaban mudah namun pada praktiknya kini masih sulit, karena masih tingginya ego orang2 di negeri ini.

Bangsa kita bisa berubah kok ke arah yg lebih baik, asal peduli dan berani. Kalau peduli tapi ngga berani ya gak bakal gerak juga. Kalau berani aja ya cmn bakal rusuh jadinya. Banyak yg bisa saya petik dari baca buku ini,
  1. Belajar politik dan ekonomi, selalu update sm berita dan informasi terkini. Peran kontrol pemerintah salah satunya ada di kita, rakyatnya dalam demokrasi ini. Kita yang mengontrol kebijakan pemerintah, kalau kitanya aja gak melek sm hukum dan ekonomo di negeri ini, yang ada dibodoh2in sm penguasa di negeri ini. Jujur aja saya bukan org yg nafsu klo denger kata politik dan ekonomi, tapi tersadar setelah membaca buku ini. Saya jadi giat nelen2 informasi yg beredar dimanapun, media cetak hingga elektronik. Disini saya punya peran untuk nyadarin temen2 saya yg menurut saya minat baca dan rasa penasarannya masih kurang. Saya harus sadarin mereka untuk rajin menelan berita dan mengerti hukum dan ekonomi *geplakpakekipas
  2. Belajar menghargai dan memahami. Tidak ada yang salah dengan perbedaan, bahkan ketika perbedaan itu menyerang diri kita. Semua orang wajar jika punya pendirian, namun bagaimana pendirian yang berbeda itu bisa jadi solusi yang baik buat smua. 
  3. Semua orang punya peran untuk membangun negeri ini, mulai dari tukang ojek hingga pejabat. Fokus dengan passion masing2 untuk membangun negeri ini. Tukang ojek juga kalau berjuangnya dengan cara nganterin anak sekolahan biar gak telat khan udah jadi perjuangan tersendiri untuk membangun negeri ini lebih baik. Berjuang lewat passion masing2 (kapan2 saya bahas ttg passion, biar gak ada lagi yg tersesat di dunia aral melintang ini hehe).
  4. Mulai dari langkah kecil. Saya jadi punya peran untuk saat ini, untuk menyadarkan teman2 dekat saya dengan hal2 yg saya tulis di atas. Pasti kita2 smua punya langkah kecil untuk memulai sesuatu yang besar.
Saya mulai tersadar, bahwa saya bukan lagi anak jagung yang kerjanya maen layangan. Saya punya tanggung jawab dengan negeri ini, terlepas negeri ini peduli atau tidak dengan saya. "Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu tapi apa yang kau sudah berikan kepada negara" ucapan khas abang2 militer (kata2 pas ikutan diklat marinir dulu). Dulu pas maba, mahasiswa baru, boleh aja masi bolot2 tolol gtu, masih bau kencur masuk ke dunia yang bernama masyarakat. Tapi sekarang udah beda, saya udh masuk ke Tahun Kedua di perkuliahan walau masih tolol, goblok. Mabok, Mahasiswa Goblok. Saya masih kurang bgt dalam hal ilmu, apalagi keterampilan lembut (softskill). Tapi mengetahui saya punya peran dan tanggung jawab yang besar, apalagi saya beruntung bisa jadi mahasiswa (walau goblok), saya ya gak bsa diem aja. Saya harus mulai bergerak, mulai berani, mulai dari langkah kecil ini. Biarlah saya dianggap goblok selamanya, asal saya bisa berpatisipasi dalam pembangunan negeri ini. Semoga renungan di kala libur ini berguna buat semua insan nusantara dimanapun dan kapanpun berada.

   *ps : sori bgt kalau nulisnya berantakan gtu kyk muka yang baca tapi yah intinya semoga maksudnya tersampaikan. Amin. Salam Mabok

Comments

Popular Posts